Nama  : Pipin Apriani

NRP     : A24100150

Laskar: 20

Ari Saputra itulah nama teman yang patut menjadi inspirasi.  Meskipun tidak sekelas, namun cerita hidupnya sangat terkenal di sekolah.  Dia adalah sosok anak yang tegar, terlahir dalam keluarga yang kekurangan tidak membuat  semangatnya ciut untuk mengecap dunia pendidikan.  Ibunya seorang  janda tua yang bekerja sebagai tukang cuci, sedangkan ayahnya meninggalkan dia ketika masih kecil.  Keaadaan yang seperti itu menuntut Ari untuk bekerja di saat teman sebayanya hanya berkewajiban untuk belajar.  Untunglah dia anak semata wayang, sehingga beban hidup yang mesti ditanggung tidak terlalu banyak.

Setiap hari dia harus membagi waktu antara sekolah dan bekerja.  Pagi-pagi sekali  dia membantu menimba air untuk ibunya, seusai membantu ibunya ia bergegas pergi ke sekolah.  Karena tidak punya uang, ia berangkat sekolah dengan berjalan kaki sejauh ± 6 km.  Ia menelusuri rel kereta api agar tidak terlambat  di sekolah dan berjalan bebas hambatan.  Sepulang sekolah, dia langsung bekerja di tempat foto copy dan ATK yang tidak jauh dari sekolah.  Bekerja di tempat foto copy memakan waktu sampai jam 5 sore, setelah bekerja dari sana dia bersiap-siap untuk menjaga warnet.  Kebetulan dia megambil jam kerja mulai dari jam 7-10 malam.  Hampir tengah larut malam, barulah dia sampai di rumah, meski badan letih namun ia tetap mengerjakan PR.  Lain halnya dengan anak muda saat ini, padahal  tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali sekolah, tapi masih saja membuat PR di kelas bahkan menyontek pekerjaan teman.

Meski pun tidak mendapat  juara umum di sekolah, ia mampu menjadi bintang kelas berkat ketekunan dan kerja kerasnya selama ini.  Kegigihannya pun membuat  guru kagum  sehingga sangat sering namanya dinomorsatukan ketika ada pencalonan siswa yang berhak mendapatkan beasiswa tidak mampu.  Selain itu, ia pintar matematika dan ia juga pernah mewakili sekolah sebagai peserta Olimpiade Matematika.  Jika kita lihat  dari kondisi keuangannya sangatlah sulit baginya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.Tak disangka wakil kepala sekolah mengusulkan dia  menjadi calon penerima beasiswa BIDIK MISI yang merupakan program terbaru pemerintah untuk membantu siswa berprestasi yang  kurang mampu.  Hasilnya pun tidak mengecewakan, ia berhasil diterima di salah satu universitas negeri di Palembang dengan jurusan FKIP Matematika.

Cerita ini menginspirasi saya bahwa keadaan ekonomi yang rendah bukanlah penghalang untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi.  Jika kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh, tentulah akan berbuah manis.